Pindah ke alamat baru kabutipis.wordpress.com

Maaf guys, bagi yang pengen baca kelanjutan cerita gue di blog ini bisa buka kabutipis.wordpress.com blog baru gue

Advertisements

Pesona Pulau Lepar, ujung selatan Pulau Bangka

Kiprah pariwisata Pulau Bangka memang tak sepopuler Pulau Belitung. Tapi percayalah, Bangka menyimpan sejuta misteri keindahan wisata alam dan sejarah yang tak kalah menariknya

Mendengar kata pulau Bangka, mungkin bagi sebagian orang awam masih asing, kalah populer di bandingkan dengan Pulau Belitung. Padahal keindahannya tak jauh berbeda. Sebagai penduduk asli pulau Bangka saya merasa rugi jika tidak menjelajah pulau kecil ini. Terletak diujung selatan pulau Bangka, untuk itu menuju pulau ini membutuhkan sedikit perjuangan.

Tak ingin menyia-nyiakan momen libur lebaran ketika pulang ke kampung halaman, sayapun mengajak beberapa orang teman untuk menuju pulau Lepar. Berbekal info dari teman-teman yang pernah kesana, saya dan beberapa orang teman saya akhirnya nekat kesana. Jika perjalanan dimulai dari Bandara Depati Amir, kota Pangkal Pinang mungkin letak pantai ini cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan. Karena start point kami dari kota Toboali, jarak menuju pulau Lepar hanya 1,5 jam saja. 30 menit menuju pelabuhan sadai. 15 menit menyeberang menggunakan kapal kecil. Dan 45 menit melanjutkan perjalanan menggunakan motor menuju pantai Lampu. Aksesnya cukup mudah.

Dari pelabuhan sadai, pemandangan pulau Lepar sudah menarik urat-urat petualangan di tubuh saya. Birunya air laut berpadu dengan hijaunya hutan bakau diseberang pulau Lepar seolah menjadi gardu selamat datang bagi kami. Tak lupa punggung-punggung bukit kecil meliuk-liuk dengan latar pulau tinggi disampingnya. Teriknya matahari siang itu cukup ganas. Namun tak menghalau semangat kami menuju ke pulau lepar. Tak lama kapal yang akan kami gunakan menuju pulau Lepar tiba. Motor segera diangkut ke atas kapal, dan kapal pun kapal berangkat.

20140812-230448-83088626.jpg

Riak-riak air laut menyentuh pipi dan tubuh kami. Beruntung cuaca sangat cerah. Gelombang laut kali ini cukup besar. Berkali-kali cipratannya masuk ke lambung kapal. Keramahan warga sekitar selalu menyertai perjalanan ini nampaknya. Berkali-kali kami diajak ngobrol, dengan bahasa daerah setempat tentunya.

Tak lama, kurang lebih 15 menit kami tiba di dermaga pulau Lepar. Dermaga kecil yang terbuat dari kayu dan beton ini mengingatkan saya pada dermaga di Gili Trawangan. Persis mirip bentuknya.

20140812-230602-83162893.jpg

Dengan arahan warga setempat kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung labu, tempat letak Pantai Lampu. Perjalanan kesana memakan waktu 45 menit. Jalanan sudah cukup bagus. Sepanjang perjalanan pemandangan tersaji apik. Hutan dengan vegetasi unik menghiasi. Tak lama hamparan hutan sawit memanjakan mata. Berganti lagi dengan pesona sabana yang luas, dan juga susunan bebatuan granit dengan ukuran besar menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Keunikan daerah pantai di kepulauan Bangka dan Belitung adalah hamparan batu-baru granit yang besar. Hal ini konon katanya hanya terdapat disegelintir pantai di Indonesia.

Satu hal yang saya sukai dari perjalanan kali ini adalah keramahan warga setempat. Senyum mereka tak berhenti mengembang. Seolah menyapa kami, khas warga melayu Pulau Bangka.

Saya terpukau dengan pepaduan sabana dan bebatuan granit di pulau ini. Bebatuan yang menjadi ikon pulau laskar pelangi ini berjejer seolah disusun sedemikian rupa membentuk monumen alam yang membuat hati ini takjub. Birunya laut mengintip dibalik semak-semak dan hutan menambah semarak perjalanan dengan motor kali ini. Semua pelancong pasti mendambakan suasana ini.

Tak lama, setelah melewati satu perkampungan kami akhirnya tiba di Desa Tanjung Labu. Disana kami bertemu teman kami yang kali ini menjadi guide kami menunjukan letak Pantai Lampu itu, ternyata hanya berjalak 2 KM dari sini. Motor kembali melaju dengan pelan. Tiap-tiap warga yang kami lewati tak lupa melemparkan senyum mereka.

Jantung tiba-tiba berdegup kencang menyaksikan pemandangan disebelah kiri saya. Hamparan pantai berpasir putih bersih dengan kilauan cahaya dari birunya akr laut melambai-lambai disebelah kiri saya. Saya yang terlanjur girang bersorak hampir membuat oleng motor yang saya kendarai. Tak lama kami memarkirkan motor mencari spot terbaik. Indah luar biasa pemandangan didepan mata.

20140812-231913-83953421.jpg

Seolah hamparan kolam raksasa dengan kilauan kristal biru diatasnya menjadi suguhan spektakuler bagi kami. Melihat pemandangan didepan mata ini saya berucap kagum dan menyesal kenapa selama ini saya melupakan tempat kelahiran dan sibuk menjelajahi negeri orang. Pantai Lampu ini tak kalah eksotiknya dengan pantai yang pernah saya datangi seperti di Lombok, Bali, Sempu ataupun Belitong. Disini suasana sangat sepi, terlihat hanya kami berenam saja yang ada di pantai ini.

20140812-230744-83264034.jpg

Tak menyia-menyiakan keindahan didepan mata, kami berenam langsung berlarian ke laut menceburkan diri satu persatu. Ombak disini cukup bersahabat. Bebatuan diujung menyita perhatian kami. Rasanya sangat jarang sekali di Pulau Bangka ini menemukan pantai yang tidak terdapat bebatuan besar yang menjadikan ciri khasnya. Kami berjalan kesana cukup jauh sekitar 1 KM. Ternyata disini bebatuan cukup terhampar luas, beragam ukuran menghiasi pinggir pantai hingga ke tengah laut. Ini spot foto yang menarik nampaknya. Tak lupa kami mengabadikan momen disini. Tak jauh dari bebatuan ini terdapat dermaha diujung sana. Tempat yang sering dijadikan warga sekitar untuk nongkrong di sore hari.

20140812-231221-83541034.jpg

20140812-231344-83624268.jpg

20140812-231535-83735753.jpg

Hari sudah cukup sore. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang, karena takut ketinggalan kapal yang mengangkut kami balik ke pulau Bangka, karena kapal disini terakhir beroperasi pukul 5 sore. Dari dermaga kecil yang akan mengantarkan kami kembali ke pulau Bangka ini, pemandangan matahari terbenam cukup spektakuler. Bukit berbentuk segitiga yang menyerupai gunung ditambah bukit kecil lainnya di pulau tinggi mempercantik panorama sunset sore itu.

Sore itu, disaat kapal dengan syahdunya menyeberangi selat ini. Kami berjanji akan terus menjelajahi setiap sudut negeri serumpun sebalai ini, dan berusaha menjaga keaslian alam di pulau ini dari hal paling terkecil dimulai dari diri sendiri. Semoga pariwisata di pulau ini maju seperti pariwisata di pulau Belitung. Amin

20140812-231716-83836726.jpg

Catatan Perjalanan Gunung Semeru

Tidak berlebihan rasanya aku bermimpi menuju atap pulau jawa, puncak semeru. Lima bulan ku mimpikan, kemudian ku rancang sedemikian rupa ide-ide itu. Merancangnya memang tak semudah memimpikannya. Mungkin bagi sebagian pendaki menjejakan kaki ke tanah tertinggi pulau Jawa adalah perkara mudah, tapi tidak bagiku. Yang pertama aku bukan pendaki, kedua aku tidak bergaul dikalangan pendaki gunung, hal ini menyulitkan mencari partner yang bisa diajak kesana, dan banyak tantangan lainnya.

Berawal dari obrolan sederhana dengan seorang teman, dan ternyata kami memiliki mimpi yang sama, menjejakan kaki di puncak mahameru, Gunung semeru. Cukup lama aku merencanakannya, hingga tibalah hari H. Deg-degan rasanya. Berpamitan dengan sahabat dan teman-teman kuliah. Kebetulan pagi itu aku masih menyempatkan diri ke kampus. Setelah segala persiapan beres, kami bergegas menuju stasiun Bandung untuk menuju Malang. Karena pada dasarnya aku menyukai petualangan, maka tiap langkah kami nikmat rasanya bagiku. Menggendong carrier, duduk di kursi kereta, mendengar kebisingan roda kereta, berinteraksi dengan penumpang lainnya dikereta dan nikmat-nikmat lainnya kulahap satu persatu. Magis, begitulah istilahku menjabarkan suasana seperti itu.

Hampir 16 jam perjalanan Bandung menuju Malang kami lalui. Kedua kalinya aku menjejakan kaki di Kota Malang setelah bulan Februari tahun 2013 kemarin. Hawa petualangan bulan lalu masih terasa disini. Kali ini petualangan itu berlanjut. Pagi itu agenda pertama kami mengisi perut. Empal gentong menjadi pilihan. Sesekali bertanya kanan kiri angkutan menuju Tumpang, tempat transit bagi pendaki yang ingin mencari angkutan berupa jeep dan truk menuju Ranupane, desa terakhir sekaligus tempat basecamp registrasi sebelum melanjutkan perjalanan ke Semeru. Ibu penjual empal gentong menawarkan angkot yang akan membawa kami ke Tumpang. Setelah negosiasi harga, kami berempat langsung bergegas menuju Tumpang.

Sampai di pasar Tumpang, kami dikenalkan dengan bapak pemilik truk yang akan mengangkut kami ke desa Ranupane. Harga tidak bisa lagi ditawar, karena mengikuti kesepakatan yang sudah ditentukan sebelumnya. Pak Rus namanya, sebelum menuju Ranupane kami beristirahat sebentar dirumahnya. Mandi, mengecek logistik, dan beramah tamah dengan pendaki lainnya. Tak lama kami berangkat. Bak belakang truk yang cukup besar terasa lowong karena hanya diisi kami berempat dan dua penumpang lokal yang juga memiliki tujuan sama denga kami. Aku sangat menikmati perjalanan menuju desa Ranupane, hingga akhirnya tiba dipintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dari sini jalanan berganti dengan jalanan yang sangat sempit. Ingatan dua bulan lalu kembali berkelebat disini. Dimana pada saat itu jeep yang mengantarkan kami pulang ke Tumpang setelah puas bermain di Bromo sedikit hampir terperosok ke jurang, namun kata temanku itu hanya perasaanku saja karena sudah dirasuki ketakutan luar biasa melihat jurang kiri-kanan, mereka tidak merasakan itu sama sekali. Kembali ke trek tadi, Jurang menganga dikiri-kanan. Lagi-lagi acrophobia yang ku alami sedikit mengganggu kenikmatan perjalanan ini. Sedikit berkeringat rasanya ketika mata memandang jurang yang menganga didepan mata, ditambah laju truk yang sedikit bergoyang ke kiri dan kanan menambah ketakutanku akan ketinggian. Bayangan truk ini akan terjungkal atau terperosok semakin menjadi-jadi. Persis dua bulan yang lalu.

20140508-200727.jpg
Akhirnya tiba juga di desa Ranupane. Udaranya sangat dingin siang itu, lebih dingin dari desa Tengger. Hal yang sedikit menggelitikku adalah ketika melihat anak-anak kecil yang bermain di pekarangan rumah. Dengan jaket tebal dan pipi yang memerah mereka sibuk bermain. Lucu bagiku, sesiang itu mereka bermain bersama temannya memakai jaket tebal saking dinginnya. Karena desa ini ketinggiannya hampir 2100 Mdpl kalo tidak salah. Suasana pos regristasi sore itu cukup sepi. Hanya ada beberapa tim pendaki yang turun. Mungkin karena pendakian baru dibuka seminggu yang lalu, setelah empat bulan ditutup untuk memulihkan ekosistem Gunung. Setelah sedikit pemanasan kami memulai perjalanan, setelah berdoa terlebih dulu tentunya.

Langkah kaki masih kuat, semangat berbulan-bulan semakin meledak-ledak ketika melihat pintu gerbang pendakian gunung Semeru. Pendakian kali ini cukup berat bagiku. Ini gunung kedua, dan sebelum mendaki gunung ini tak ada persiapan fisik yang kulakukan. Pos demi pos kami lalui. Lapisan hutan berganti, pemandangannya menyita perhatianku. Tanah basah bercampur aroma pinus, anggrek liar yang sedang bermekaran dan pohon paku berukuran raksasa menambah pesona perjalanan menuju ranu kumbolo. Ditengah perjalanan tiba-tiba lutut temanku cedera. Sebelumnya lututnya memang sudah cedera dan dokter bilang untuk menghindari aktivitas yang ekstrim agar tidak semakin bertambah. Kulihat muka adit menahan kesakitan luar biasa. Entah dengan apa kami menyembuhkannya, aku sedikit lupa. Akhirnya vero mengambil carrier adit dan memakaikan didada depan, double carrier, depan belakang. Langkah adit sedikit lebih mudah dengan tongkat ala kadarnya dari dahan pohon yang ditemuinya. 3 jam berjalan akhirnya ranu Kumbolo menyembul dari balik semak-semak. Kami bersorak. Lelah rasanya sedikit terbayarkan melihat panorama Danau ranu kumbolo. Namun, perjalanan dari sini menuju tempat camp diseberang sana masih cukup jauh ternyata. Sekitar setengah jam akhirnya kami tiba di tempat camping. Hari sudah mulai gelap. Beberapa tenda pendaki lainnya sudah berdiri. Beruntung saat itu suasana masih sepi, jadi kami sedikit leluasa mendirikan tenda. Beberapa temanku mendirikan tenda, aku mempersiapkan alat masak dan logistik lainnya. Hari sudah benar-benar gelap ketika tenda kami selesai berdiri. Tenda yang kami sewa cukup besar untuk memuat kami berempat. Cukup leluasa.

20140508-200359.jpg
Makanan siap tersaji, buru-buru kami menyantapnya karena kelaparan. Beres makan, agenda selanjutnya ngopi-ngopi. Tenang, bahagia, haru, dan entahlah kata-kata apalagi yang pantas menjabarkan suasana saat itu. Milky way, yang saat itu beruntung dapat kulihat, menyemarakkan suasana langit ranu kumbolo kala itu. Dua bukit didepan mata samar-samar menegaskan siluetnya. Tak lupa hamparan air danau didepan mata yang berpadu dengan cahaya headlamp pendaki diujung sana yang baru tiba malam itu turut menyemarakkan suasana malam itu. Sayangnya kami tidak membawa gitar. Hawa dingin ranu kumbolo malam itu menambah suasana magis bagiku. Api unggun yang dibuat pendaki tenda sebelah sedikit memberikan kehangatan. Ketika sebagian temanku memilih menghangatkan badannya didalam tenda. Aku memilih tetap bertahan diluar. Ipod yang kubawa sengaja ku setel dengan alunan track payung teduh. Semakin menjadi-jadi kebahagiaan dimalam itu. Ranu kumbolo, tanah tinggi yang selalu ku rindukan.

20140508-200953.jpg

Paginya, kami terbangun dalam samar-samar guratan garis jingga dipelupuk dua bukit didepan kami. Mulutku dibuat menganga melihat pemandangan yang disuguhkan didepan mata. Panorama yang berbulan-bulan ini hanya mampu kulihat dari foto internet kini tersaji lebar didepan mata. Uap-uap dingin air danau didepan kami menambah dinginnya pagi itu. Entahlah mungkin 7-10 derajat celcius dinginnya cuaca pagi itu. Itu pagi terdingin selama digunung yang pernah kudaki. Sedikit demi sedikit pendaki-pendaki keluar dari tenda hangatnya. Kusapa beberapa pendaki didekat kami, tak lupa pendaki tetangga asal Belgia yang tak kalah ramahnya menyapa tim kami. Pagi itu kurang rasanya tanpa kopi hangat. Kopi yang dibuat ternyata lansung berubah menjadi dingin sesaat setelah api dipadamkan. Yasudahlah dinikmati saja pikirku.

20140508-201329.jpg
Setelah momen sunrise usai, kami bergegas merapikan peralatan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju kalimati, tempat camp terakhir yang kami rencanakan sebelum summit attack keesokan harinya. Kami memilih berjalan agak pagi agar menghindari terik panas matahari siang hari yang pastinya sangat menyengat. Tak lupa juga dengan pertimbangan agar dapat beristirahat lebih lama di kalimati sebelum tengah malam berjalan menembus trek menuju puncak. Tanjakan cinta, trek pertama yang harus dilalui. Ingatan sedikit diingatkan kembali dengan scene di film 5 CM, beragam mitos yang kubaca namun tak kupercaya, rugi sekali rasanya tidak menoleh kebelakang menikmati view ranu kumbolo. Dari sini view ranu kumbolo terlihat lebih bagus. Jejeran tenda pendaki, danau dan bukit-bukit menciptakan perpaduan tersendiri. Sungguh indah. Cukup menguras tenaga rasanya melewati tanjakan cinta ini. Sedikit terjal dengan beban yang lumayan berat dipunggung menambah kesulitan berjalan. Berkali-kali aku berhenti hingga akhirnya sampai juga di ujung tanjakan ini. Dan kami berempat sedikit dihibur dengan pemandangan oro-oro ombo didepan mata. Hamparan tumbuh-tumbuhan berbunga ungu, entahlah apa namanya. Dan bukit-bukit disisinya membuat bibir berdecak kagum. Dan juga, puncak mahameru sedikit menyembul dibalik bukit-bukit. Tak ayal semangat kami semakin dipacu. “Malam ini kita dipuncak semeru” teriak masing-masing dari kami.

20140508-201536.jpg
Kami menuruni turunan itu menuju ke oro-oro ombo. Tumbuhan ungu, yang sering disebut orang dengan lavender kini dapat ku sentuh. Kucium, tidak harum ternyata. Ternyata benar memang bukan lavender gumamku. Tak lupa kami mengabadikan keindahan oro-oro ombo. Perjalanan pun dilanjutkan menuju cemoro kandang. Jalanan yang tadinya datar kini mulai sedikit menanjak. Melewati rerumputan ilalang setinggi dada kami, karena kebetulan waktu itu vegetasi yang berada di semeru masih tumbuh subur setelah ditutup hampir empat bulan lamanya guna memulihkan ekosistem, siklus tahunan. Di cemoro kandang tanjakan-tanjakan kecil semakin banyak dan seperti tak ada habisnya. Kami bertiga, aku, adit, dan ayat mencuri-curi istirahat sebentar sambil memamah logistik yang kami bawa, tidak dengan teman kami alvero, speed jalannya yang cukup cepat mendahului kami. Puas mengisi perut dengan cemilan yang kami bawa, kami langsung melanjutkan perjalanan menyusul alvero. Tak lama sekitar satu jam dari cemoro kandang akhirnya kami tiba di padang luas nan gersang, Kalimati. Sebuah kerucut yang teramat raksasa berdiri tegak dihadapan kami. Sesekali ujungnya mengeluarkan asap. Dari sini batas vegetasi antara arcopodo dan kelik sangat jelas terlihat. Merinding! Satu kata yang menggambarkan perasaanku pada saat itu. Malam ini mau tidak mau kami akan berjuang menuju puncaknya, puncak impian kami.

Setengah berlari karena saking excitednya kami menuju tempat camp kelompok pendaki lainnya. Nampaknya kami pendaki yang pertama kali tiba pada siang itu. Pendaki lainnya sibuk beberes peralatan dan logistik mereka untuk turun ke ranu pane hari ini. Kami bertanya kepada mereka bagaimana medan yang telah dilalui, cuaca kemarin malam, dan tips-tips lainnya agar memudahkan perjalanan kami nanti malam. Tak lupa beberapa dari mereka memberikan kami tongkat yang mereka gunakan semalam ketika menanjaki kerucut raksasa itu. Jika hanya mengandalkan kedua tangan, laju jalan akan lebih sulit. Tongkat sangat membantu agar tidak mudah terperosok kembali ketika melangkah.

Setelah mendirikan tenda dan masak-memasak kami bertiga langsung menuju kalimati untuk menambah persediaan air. Ayat tidak ikut. Perjalanan menuju mata air sumbermani cukup seru. Jalurnya merupakan jalur yang membentuk sebuah bekas sungai besar tempat lahar mengalir. Batu-batu kecil mendominasi dibandingkan tanah. Berangkat dari kalimati jalurnya menurun, sebaliknya jika dari sumbermani ke kali mati cukup menanjak, terkadang sedikit curam. Mata air disini cukup deras aliran airnya. Namun entah bagaimana jika musim kemarau tiba. Airnya cukup dingin dan menyegarkan. Jauh lebih segar daripada air mineral dalam kemasan. Kami segera mencuci muka dan mencuci perabotan memasak, sesekali langsung kuminum. Segarnya tak ada dua. Diperjalanan kembali menuju kalimati, kami menyempatkan mencari tongkat tambahan untuk summit attack nanti malam. Ingat! Tongkat itu penting bagi yang tidak membawa trekking pole.

Waktunya foto-foto sebentar di kalimati. Ada yang unik disini, tumbuhan yang awalnya kukira rumput biasa, ternyata tajam sekali daun-daunnya. Sesekali menusuk telapak kaki yang sengaja saat itu tak kupakaikan sandal atau sepatu. Puas berfoto akhirnya kabut tebal datang. Bayangkan saja kabut tebal disore yang cukup terik itu. Pemandangan langka pikirku. Akhirnya kami memilih untuk beristirahat. Memulihkan tenaga untuk pendakian sesungguhnya nanti malam.

20140508-201655.jpg
Sulit rasanya memejamkan mata sore itu, padahal tubuh cukup didera kelelahan. Rasa excited yang berlebihan mungkin menjadi penyebabnya. Membayangkan malam ini berjalan menembuh hutan arcopodo, kemudian menginjakkan kaki di kelik (batas vegetasi) dan merangkak-rangkak ditengah kegelapan malam menuju puncak mahameru. Hampir dua jam aku mencoba tidur, namun gagal. Begitupun dengan teman-temanku. Mereka kesulitan tidur. Mungkin karena memang masih sore. Akhirnya pukul setengah delapan malam kami baru benar-benar tertidur.

Pukul 11 malam kami terbangun karena bunyi alarm yang hampir berbarengan. Suara diluar mulai ramai, berasal dari pendaki lain yang juga sedang bersiap-siap summit attack. Satu persatu kami keluar tenda. Brrrr ternyata dinginnya luar biasa. Ujung-ujung jari terasa beku. Aku masuk kembali kedalam tenda. Memakai baju berlapis, sarung tangan kupakai double. Namun dingin masih sangat terasa ketika keluar tenda. Butuh sedikit pemanasan mungkin. Aku bergerak-gerak, melakukan lompatan kecil. Temanku sibuk memasak air untuk membuat susu, penambah kalori. Mengisi perut wajib hukumnya sebelum pendakian malam ini. Susu, roti, energen menjadi sumber energi kami malam itu, karena tak mungkin jika harus memasak makanan berat lainnya. Selesai mengganjal perut kami berempat berdoa meminta agar pendakian malam ini diberi kelancaran dan keselamatan.

Pukul 12 malam kurang kami memulai perjalanan kami. Langkah pelan namun pasti. Kami cukup nekat hanya berbekal satu headlamp, dua buah senter yang bersumber dari powerbank, dan dua buah HP nokia senter sebagai sumber penerangan malam itu. Cukup kerepotan awalnya dimana kami harus memegang HP atau powerbank sekaligus memegang dahan atau akar pohon sebagai pegangan ketika jalanan sedikit menanjak. Sedikit diakali, dengan menaruh HP diatas kupluk kepala, jadilah headlamp darurat, sedikit mempermudah pergerakan.

Arcopodo kami lewati dengan mudah, meski ayat salah satu rekan kami hampir tumbang ngos-ngosan disini. Selanjutnya kelik, batas vegetasi yang sekali lagi membuatku merinding. Pandangan kedepan hanya ada lautan pasir yang terus menanjak kedepan. Puncak diujungnya tak kelihatan. Cukup tinggi aku mendongakkan kepala melihat puncaknya, namun tertutup kabut malam itu. Debu cukup banyak masuk kemata yang berasal dari pasir yang kami injak, cukup mengganggu perjalanan kali ini. Masker yang kupakai cukup membantu menangkis debu yang masuk kehidung. Dari sini setelah melewati batas vegetasi, angin semakin dingin saja. Hembusan angin cukup kencang dimana tak ada lagi pohon-pohon penghalang. Mau tidak mau kami harus tetap berjalan untuk menghangatkan tubuh kami.

Hampir tiga jam berjalan, rasa frustasi karena kelelahan luar biasa mulai muncul. Puncak nampaknya masih jauh. Langkah mulai melemah namun tidak dengan semangat. Sesekali kami berhenti agak lama, namun berjalan kembali ketika tubuh mulai kedinginan. Tim kami kali ini dibagi menjadi dua. Aku dan adit berjalan duluan, sementara vero membantu ayat yang sedikit lambat pergerakannya. Rasa Kantuk mulai menyapa, lutut dan paha sudah mulai lemas rasanya. Aku dan adit mencari makanan yang bisa dimakan saat itu untuk menambah kalori.

Pukul 5 pagi matahari sudah mulai malu-malu menyibakkan cahaya jingganya. Kabut tipis mulai menghilang perlahan. Beruntung cuaca malam itu cukup cerah. Aku dan adit beristirahat cukup lama sambil menunggu rekan kami yang tertinggal dibelakang. Menikmati pemandangan didepan mata sambil ditemani hawa dingin yang menusuk, menghirup bau belerang yang semakin tajam, mungkin puncak sudah mulai dekat. Satu persatu pendaki yang dibelakang tadi mendahului kami. Tak lama alvero dan ayat tiba. Segera kuminta persediaan cemilan yang dibawanya didalam ransel kecil merahnya. Kubuka perlahan ranselnya, mencari-cari stok cemilan yang dibawa. Namun sedikit kaget ternyata cemilan yang kami bawa hanya sebungkus oreo. Dan itupun sudah dimakan sebagian. GLEK! Begitupun ternyata stok air minum kami sudah sangat menipis. Susu murni yang kami bawa empat kaleng sudah ludes kami minum, begitupun air putih. Hanya menyisakan seperempat botol aqua besar. Kami salah perhitungan ternyata. Air dua liter ditambah empat kaleng susu murni yang kami bawa ternyata kurang, ditambah cemilan hanya berupa sebungkus oreo. Tenaga kami yang sudah terkuras habis sangat membutuhkan kalori. Ditambah haus menyerang namun kami harus berhemat-hemat dengan air yang mungkin kurang dari segelas jumlahnya.

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini langkah kaki makin melemah. Tenaga benar-benar habis. Kira-kira 50 meter sebelum puncak kami berhenti. Meminum air sisa terakhir. Itupun masih kurang rasanya. Sedikit kepanikan muncul dipikiranku. Bagaimana dengan air minum untuk perjalanan turun nanti?. Namun pikiran itu kutepis, yang penting sampai puncak terlebih dahulu. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir kami melanjutkan perjalanan, ayat terlebih dahulu mendahului kami. Hal ini sedikit memancing emosi kami bertiga, terutama alvero. Dia yang tadi hampir tumbang berkali-kali dan kemudian dibantu alvero, justru meninggalkan kami terlebih dahulu ketika hampir tiba dipuncak. Tapi yasudahlah. Di gunung sifat orang memang lebih mudah dilihat, apalagi dalam situasi seperti ini. Dalam perjalanan terakhir menuju puncak, akhirnya aku meminta air minum kepada pendaki lain yang kutemui, tak tahan lagi rasanya menahan haus tenggorokan kering ini.

Tepat pukul 5.45 aku berhasil menginjakan kaki diatap pulau jawa ini. Haru, sedikit air mata menetes dipelupuk mata, tak lama adit dan alvero muncul. Kami berhamburan berpelukan memberikan selamat. Perjuangan kami akhirnya berhasil. Aku bersujud mengucapkan syukur. Wajah bahagian nampak jelas dimuka kami bertiga. Perjuangan dua hari ini terbayar sudah dengan menjejakan kaki di puncak impian. Masih teringat jelas rasanya bagaimana kekesalan subuh itu karena langkah yang seakan tak pernah sampai pada tujuannya. Namun benar adanya, setiap langkah menemui tujuan, setiap perjuangan membuahkan hasil. Tak berlebihan rasanya ini merupakan perjuanganku tersulit dalam mendaki gunung, mengalahkan kesulitan ketika menuju puncak rinjani dan ciremai.

20140508-201835.jpg
Rona bahagia tak berlangsung lama. Tenaga yang mungkin kali ini memang sudah benar-benar habis meminta untuk dipulihkan. Namun apa daya kaki tak punya cemilan, bahkan air minum pun tidak. Sesekali meminta kepada para pendaki. Namun sedikit tahu diri kami hanya meminta sedikit saja, karena mereka tak kalah butuhnya dengan kami.

Aku mencari in memoriam Soe Hok Gie, namun tak ketemu, entah dimana letaknya. Bertanya kepada pendaki lain jawabannya pun sama. Puas mengabadikan panorama puncak. Akhirnya kami turun. Mungkin hanya 15-20 menit kami memutuskan untuk turun kembali. Daripada terlalu lama, cuaca pagi itu juga masih sangat dingin karena angin yang berhembus kencang. Begitupun bau belerang yang sesekali menusuk kehidung. Dan DAMN!!! Sinar matahari yang sudah sangat jelas membelalakan mataku melihat jalur menurun didepan mataku. Kemiringannya aduhai! Aku merinding hebat, lututku pun melemas. Perjuangan macam apa ini pikirku. Namun bagaimanapun juga aku harus melawan acrophobia-ku. Tak mungkin aku terus-terusan berdiam dipuncak. Teman-temanku mendahului. Alvero sepertinya sangat menyukai tipe trek seperti ini, bisa seluncuran. Dia yang paling depan sementara kami bertiga dibelakang. Aku turun secara perlahan. Entah kenapa pikiran buruk terus menyerangku. Aku takut terjungkal kedepan, padahal mungkin itu jarang terjadi. Akhirnya aku memutuskan untuk turun seperti bermain perosotan, Begitupun adit mengikuti caraku.

20140508-201923.jpg
Hampir dua jam kami menuruni punggungan ini. Harus ekstra hati-hati. Jurang dikiri kanan, terutama sebelah kanan yang dinamakan blank 75 cukup menganga lebar mengintai siapapun pendaki yang tidak hati-hati. Semakin kebawah semakin jelas jurang-jurang itu. Terutama jurang setelah melewati perbatasan vegetasi. Aku baru menyadari jika dikiri kanan kami semalam jalurnya berupa jurang yang cukup dalam. Untung saja tidak terperosok kedalam. Tiba di kalimati rasanya luar biasa senangnya. Bayangan air minum selama perjalanan akhirnya tersampaikan. Penderitaan tenggorokan yang kering kehausan dan perut yang benar-benar kosong kelaparan dari tadi akhirnya terselesaikan. Sedikit rakus kami memakan cemilan yang sedapatnya kami cari. Air minum diteguk sepuasnya. Luar biasa perjuangan dari tengah malam hingga pagi ini. Rencana masak memasak akhirnya kutunda. Kami lebih memilih untuk tidur sebentar, mengistirahatkan tubuh yang memang sudah diserang kantuk luar biasa dari subuh tadi.

Puas tertidur pulas setelah kelelahan summit attack tadi, akhirnya kami terbangun melanjutkan masak-masak. Setelah selesai makan, kami bergegas packing agar tidak kesorean. Rencananya kami langsung turun ke desa ranupane malam ini. Perjalanan turun sedikit mudah. Jalan yang terhitung masih landai tidak membutuhkan beban fisik yang begitu besar. Sekitar lima jam berjalan akhirnya pukul delapan malam kami tiba didesa ranu pane. Lelah luar biasa mendera. Beruntung truk yang sudah kami sewa tiba duluan. Kami langsung turun menuju Tumpang malam itu.

20140508-202055.jpg

Selamat jalan Gunung Semeru. Pendakian kali ini cukup luar biasa. Banyak hal berharga yang bisa dipetik. Perjalanan panjang 42 KM berjalan kaki menembus hutan belantara bolak-balik mungkin takkan pernah terlupakan dan menjadi satu dari sekian petualangan yang menarik. Semoga bulan Agustus ini dapat berjumpa lagi menjejakkan kaki dipuncaknya dan menikmati panorama Ranu Kumbolo yang sudah melegenda itu. Amin

Coretan Mahameru

2 mei 2013, Kereta api menuju malang
Mimpiku berbulan bulan ini akhirnya terwujudkan didepan mata. Semeru kata yg selalu terngiang akhirnya menjadi nyata didepan mata. Bismillah

3 mei 2013 ranu kumbolo
Tak pernah terbayangkan mampu melihat langit seindah ini. Bulan dan bintang bersinar terang dilangit yg menghitam namun jernih. Sungguh pemandangan berbeda ketika dikota dimana bintang susah utk dilihat. Disini, ditempat yg dingin ini, didepanku terhampar luas ranu kumbolo yg danaunya memancarkan gemerlap sinar bintang yg jatuh kepermukaannya, dua bukit didepan menjadi pemandangan terindah sendiri. Damai, itu yg aku rasa. Canda tawa kami jauh lebih hangat daripada biasanya. Dingin yg sangat menusuk malam itu mampu kami hilangkan dg kehangatan canda tawa. Berharap esok terbangun melihat sunrise terindah disini

4 mei 2013, Puncak mahameru
Lelah dan semangat kami melebur mendaki puncak tertinggi di pulau jawa ini. 6 jam berjuang melawan kemiringan dan acrophobia yg ku rasakan. Akhirnya tepat pukul setengah 6 pagi ini aku berhasil menginjakkan kaki ku di puncak tertinggi pulau jawa ini. Mimpi yg telah ku pendam berbulan bulan yg lalu terbayar sudah dg perjuangan ini. Puncak mahameru, menempaku utk tetap semangat. Bersama teman teman vero adit ayat kami berempat berjuang bersama mendaki puncak ini. Rasa haru menjadi satu melebur dalam pelukan kami. Dinginnya angin yg menusuk menjadi saksi perjuangan kami. Lautan awan, sunrise terindah dan kerikil mahameru menjadi pemandangan yg tak akan kulupakan. Disini aku berjanji utk melakukan perjalanan lebih lagi ke gunung gunung dan tempat terindah di indonesia

5 mei 2013, Tumpang rumah pak Rus
Disini lelahku dan tertidur. Setelah berhari hari kemarin kami menaklukan semeru dan mahamerunya lelah tak terkira menempa tubuh kami. Aku, vero, adit dan ayat beristirahat diruang tengah rumah pak Rus seorang penyewa truk untuk menuju ranu pane. Bertemu dengan pendaki lain disini memberikan pengalaman tersendiri. Berbagi cerita, semangat, motivasi, pengalaman dan berbagai keakraban lainnya membuat diri ini tak ingin kagi pulang kembali ke bandung. Aku merasa nyaman dg suasana seperti ini

Pengalaman Hiking Ke Gunung Papandayan

Pengalaman Hiking ke papandayan

“Jaga mood kalian yah. Inget! Anggap semua halnya fun, jangan mikir yang jelek-jeleknya. Semua capek kalian nanti akan terbayarkan. Setiap langkah kalian pasti ada maknanya” teriakku berkali-kali menyemangati teman-temanku.
20140309-123454.jpg
Pengalaman keduaku ke Papandayan kali ini sedikit lebih menantang bagiku. 11 orang rombonganku terdiri dari 4 cewek dan 7 cowok. Berkali-kali aku menjaga mood teman cewekku agar tidak bad mood selama perjalanan karena kelelahan. Mencoba menghibur mereka dengan candaan yang mungkin terkadang terdengar krik-krik, padahal suaraku mulai parau karena radang tenggorokanku semakin akut.
Banyak orang mengatakan trek menuju papandayan cukup mudah dibandingkan gunung lainnya. Pendek dan landainya jalur menjadikan papandayan pilihan utama bagi sebagian orang yg ingin menikmati keindahan gunung namun tidak ingin berkutat dengan trek ekstrim dan curam yang pastinya melelahkan. Berlokasi di kabupaten Garut menjadikan Papandayan mudah dijangkau bagi pendaki-pendaki yang berasal dari Jawa Barat dan jakarta. Ini pula yang menjadi alasanku untuk menjadikan Papandayan sebagai gunung perkenalan bagi teman-temanku yang masih pemula. Berbeda dengan pendakian pertamaku ke papandayan, waktu itu adalah pendakian pertama bagiku, jadi segala sesuatunya temanku yang mengurusinya, aku cukup mempersiapkan peralatan pribadi. Namun di pendakian kedua kali ini, banyak hal yang harus kupersiapkan, mulai dari peralatan pribadi teman, memperhitungkan budget hingga kebutuhan tim kami.
Tim pendakian keduaku kali ini cukup unik dimana banyak diantara mereka belum saling mengenal satu sama lainnya. Berawal dari ajakanku akhirnya banyak yg mengiyakan, dari mulai teman kuliah, teman KKN yang mengajak temannya pula, teman kenal lainnya, dan teman sedaerahku.
Masih teringat jelas di pendakian pertamaku tahun 2012 yang lalu, ketika film 5CM masih booming-boomingnya diputar dibioskop, aku dan temanku memparodikan adegan di film tersebut versi kami sendiri. Dinginnya suhu saat itu terhangatkan dengan tawa dan canda kami. Rintik hujan nampaknya setia menemani perjalanan kami ketika berangkat dan pulang pada saat itu. Beruntung teman-temanku yang cukup expert sigap menanggapi situasi. Ketika kami kedinginan, Alan dengan sigapnya mengeluarkan kompor untuk menghangatkan badan kami. Begitupun mendiriakan tenda dan mengatur peralatan serta logistik, aku yang benar-benar buta manajemen pendakian saat itu hanya melihat saja, niat ingin membantu tapi takut malah mengacaukan pekerjaan mereka, alhasil aku cuma mengambil alih pekerjaan masak-memasak. Tak cukup sulit pikirku.
20140309-124829.jpg
Dipendakian kedua, hujan deras menyambut kedatangan kami di pondok saladah. Posisi tenda kami berdiri kupilih persis si tempat kami mendirikan tenda dua tahun yang lalu. Hujan besar saat itu sukses membuat kuyup kedinginan tubuhku. Mendirikan tenda, memasang flying sheet, dan berbagai tetek bengek lainnya dalam keadaan hujan deras cukup membuat kesal. Kesal karena peralatan yang dibawa jadi basah semua, terlebih satu tenda yang ku pinjam ternyata tenda pantai tanpa layer tambahan. Hujan deras sepanjang sore dan malam itu pasti dengan suksesnya mampu menembus dinding tenda yang tipis itu. Beruntung sekali aku membawa flying sheet yang semulanya direncanakan untuk dipasang sebagai tempat memasak.
20140309-125054.jpg
Pengalaman paling menyenangkan ke papandayan bagiku adalah ketika kami kebingungan memilih jalur menuju tegal alun. Aku yang saat itu ketinggalan rombongan menyusul dan mendapati teman-temanku sudah berada dijalur yang cukup curam menuju tegal alun. Kebingungan sedikit menghinggapi awalnya. Karena takut para cewek ini akan kelelahan jika melewati jalur yang curam dan cukup panjang ini. Namun ide lain muncul. Mereka harus diajak menikmati jalur ini agar merasakan petualangan sesungguhnya. Hampir 1jam lebih akhirnya berhasil menggapai puncak punggungan bukit itu. Awalnya kami mengira ini adalah puncak papandayan, namun ternyata bukan. Aku dan Alvero harus sigap membaca situasi dan lokasi dimana kami berada pada saat itu untuk mencari jalur yang tepat menuju tegal alun. Berbekal insting dan pengalaman yang dulu, akhirnya kami menembus jalur itu untuk menuju tegal alun. Berkali-kali temanku sibuk bernarsis ria dibibir bukit itu, padahal jurang disebelahnya sangat terjal. Setengah jam sampai juga akhirnya. Wajah kelelahan mereka akhirnya berganti dengan senyum. Senang melihatnya. Cukup lama kami menikmati panorama tegal alun akhirnya kami turun melalui jalur yang lainnya untuk menuju Hutan Mati Papandayan.

20140309-125746.jpg
Ketika pulang, nampaknya teman-temanku yang pertama kali naik gunung ketagihan dengan petualangan di Gunung. Nampak beberapa dari mereka excited menanyakan peralatan gunung untuk dibeli. Pendakian ke Cikuray selanjutnya akan menanti.
Itulah sedikit cerita pengalaman selama pendakian ke Papandayan. Keceriaan luar biasa selalu tercipta bercampur dengan aroma uap belerang dan keramahan pendaki lainnya. Semoga bisa kembali lagi kesini dengan cerita-cerita barunya yang tak kalah menariknya

20140309-130419.jpg

(Part 2 Edisi malang) Menjelajahi Gunung Bromo

20140305-111201.jpg
Siapa yang tidak kenal Gunung Bromo? Salah satu gunung stratovolcano dengan view paling eksotik di Indonesia bahkan terkenal ke mancanegara. Bersanding dengan Gunung ijen dijadikan salah satu tujuan wisata yang tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi Indonesia versi buku lonely planet. Gunung ini selalu menjadi incaran wisatawan lokal. Landscape yang ditawarkan menurutku memang luar biasa. Kita bisa melihat padang savana luas yang sering disebut bukit teletubies, padang pasir, kawah bromo yang selalu mengeluarkan aroma belerang, dan yang paling tidak boleh dilewatin adalah momen sunrise dari penanjakan. Barisan lurus gunung Batok, bromo dan puncak mahameru menjadikan pemandangan didepan mata luar biasa.

Setelah berlelah-lelahan di pulau sempu (baca catper sempu) tujuan selanjutnya adalah Bromo. Dengan bantuan pak sopir angkot yang kita sewa kita diantar ke rumah mas Wilda di tumpang, mas wilda ini orangnya baik banget. Dia adalah pemilik jeep yang akan mengantarkan kita ke Bromo esok subuhnya. Dirumahnya kita bermalam. Kamar sederhana dikhususkan untuk para teman-teman cewek, sementara kita tiduran diruang TV. Dinginnnya Tumpang malam itu dihangatkan dengan cerita-cerita pengalaman petualangan mas Wilda dan teman-temannya. Berbagai kisah-kisah menariknya tertutur lancar dari mulutnya. Dengan ditemani kopi dan gorengan panas sesekali kami menimpali. Malam itu juga kami merencanakan akan berangkat esok subuh sekitar pukul setengah 5 pagi. Awalnya kami berencana berangkat pukul 2 pagi untuk ke penanjakan melihat sunrise, namun cuaca kurang bersahabat nampaknya. Jadi kami tidak bisa menikmati momen sunrise itu.

Pukul setengah 5, kami bersiap-siap berangkat. Kami bertujuh duduk dibak belakang jeepnya, sementara satu teman memilih untuk duduk didepan disebelah mas Wilda. Awal perjalanan menuju Bromo kami sangat semangat, kami menyapa segala orang yang kami lewatin. Sungguh ramah warga disini. Perjalanan semakin menantang ketika memasuki gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jalanan sudah tak lagi beraspal berganti dengan bebatuan yang disusun sedemikian rupa. Adrenalin kami dipacu melewati jalanan sempit, curam dan berkelok-kelok waktu itu. Aku tidak menyangka perjalanan akan semenantang ini. Acrophobiaku mulai diuji. Jurang kiri kanan yang mulai terlihat samar-samar karena hari mulai terang menguji mentalku. Aku memilih untuk tidak melihat kiri kanan. Pandangan lurus kedepan saja. Tiba-tiba pagi itu turun gerimis kecil sekali. Cuaca khas pegunungan yang sudah dingin menjadi semakin dingin, dan dua teman wanitaku tidak memakai sarung tangan sama sekali. Cukup gila menahan dingin pagi itu. Tak lama kami akhirnya tiba di bukit teletubies, hamparan padang savana membuat kami semua berdecak kagum. Begitupun dengan mobil jeep yang dipacu mas wilda semakin kencang di tengah hamparan padang savana itu. Disini petualangan mulai berasa. Melewati lautan pasir kami bertemu bule yang nekat jalan kaki dari tumpang, tampaknya mereka kelelahan dan kami ajak untuk ikutan di jeep kami.

20140305-120312.jpg
Puas melawan angin kencang di lautan pasir Bromo akhirnya kami sampai diparkiran jeep. Turun dan langsung berangkat menuju kawah Bromo, cukup jauh sekitar 1 KM jarak parkiran jeep dengan kawah bromo. Angin kuat yang membawa pasir saat itu cukup mengganggu kami. Namun disini letak keseruan yang sesungguhnya. Berjalan melawan angin.

Sesampai di kaki bromo kami mengisi perut terlebih dahulu dengan nasi bungkus yang kami beli dari seorang bapak-bapak. Kami makan dengan lahapnya dibelakang sebuah pondokan disitu. Selesai makan kami baru menyadari jika sebelah kami itu terdapat kotoran kuda yang berserakan disana sini dan banyak sekali.

20140305-113910.jpg
Perjalanan dilanjutkan menyusuri punggungan Bromo. Jalanan awalnya tidak terlalu curam, namun dikarenakan tubuh yang sudah lelah trekking di Pulau Sempu kemarin membuat pergerakan melambat. Apalagi teman-teman cewek yang cepat kelelahan. Berkali-kali kami berhenti dan aku memijit kaki mereka. Semangatku luar biasa. Rasa excited melihat landscape kawasan ini dari atas semakin membuatku bersemangat. Namun tiba-tiba semangatku luntur entah kemana ketika mulai menapaki anak tangga Bromo. Kemiringan tangga yang terlalu curam dan ketinggian saat itu mulai mengusik rasa takutku. Aku berpegangan erat sekali seolah takut jatuh dari situ. Teman-temanku mendahuluiku. Setiba dipuncak, ketakutanku semakin menjadi. Teman-temanku melipir berkeliling dibibir kawah, sementara aku hanya terduduk lemas dengan lutut ditekuk didepan tangga. Melihat lubang kawah yang meletup-letup membuatku semakin lemas, ditambah ketinggian ini semakin membuat perasaan tidak nyaman. Keringat dingin mengucur perlahan padahal cuaca saat itu cukup dingin ditambah angin yang sangat kencang. Teman-temanku asyik berfoto-foto, mereka mengajakku bergabung. Aku tetap keukeuh duduk disitu. Tak lama kemudian aku semakin tidak kuat menahan ketakutan berada diketinggian. Aku memutuskan untuk turun duluan. Teman-temanku bengong, mereka baru menyadari kalau aku takut ketinggian tingkat akut. Aku turun sendirian.

20140305-114704.jpg
Tak lama mereka menyusul ke bawah. Perjalanan turun kebawah diisi dengan foto-foto sepanjang jalan. Sesampainya di jeep kami melanjutkan perjalanan menuju padang savana bukit teletubies. Beruntung cuaca cukup cerah. Spot ini tidak boleh dilewatkan untuk sesi foto-foto. Hamparan savana yang ditumbuhi berbagai macam flora menjadikan lukisan indah tersendiri. Yang paling aku sukai disini adalah pemandangan punggungan bukit yang ditumbuhi rumput liar yang bergerak beraturan seperti bulu kucing mahal atau karpet bulu tebal ketika ditiup angin. Puas berfoto-foto disini kami segera pulang mengakhiri petualangan Bromo kali ini.

20140305-121143.jpg

Terimakasih Bromo petualangan luar biasanya. Akhirnya aku memberanikan diri berlama-lama di puncak Bromo pada kunjungan kedua ku ke Bromo. Cukup lama aku menikmati bibir kawahnya. Dan akhirnya punya foto-foto di puncak Bromo. Tiga kali kesini selalu mendapatkan sensasi yang berbeda. Mulai dari perjalanan ke Bromo musim hujan dimana savananya menghijau, ke Bromo musim kemarau padang savananya berwarna cokelat. Naik jeep, naik truk dan yang paling kocak itu naik motor.
(Bersambung ke edisi keliling kota Batu Malang)

20140305-121512.jpg

Curhat dikit tentang pengalaman naik Gunung

Bagi gue naik gunung itu kayak pulang kerumah sendiri. Disini gue ngerasa damai, bahagia, tenang, lepas, pokoknya hal-hal yang menyenangkan dan menenangkan hati gue rasain ketika naik gunung. Selama naik gunung gue punya banyak pengalaman, baik yang enak, maupun pengalaman yang gak enak.

Pengalaman yang gak enak misalnya ketika gue mau naik ke Rinjani, gunung yang udah gue mimpiin 7 bulan, gue atur sedemikian rupa segala persiapan, jadwal, rekan perjalanan dan segala macemnya.
Jadi apapun yang ngehalangin gue kesana bakalan gue lawan. Bahkan waktu itu gue rela ninggalin UAS mata kuliah 3SKS. Dan yang paling parah gue naik Rinjani pas dalem keadaan lagi sakit muntaber. Kebayang kan perjalanan gue dari Bandung menuju Lombok gimana kesiksanya, gue coba nahan depan teman gue gimana rasa kesiksanya perut mual, badan panas, biar gak bikin mood mereka hancur selama perjalanan karena khawatir ama gue, tapi kalo boker-boker kaga bisa ditahan brooo. Alhasil tiap berenti di bandara bali, lombok, dan basecamp registrasi gue boker-boker. Bahkan selama pendakian hari pertama gue boker 3 kali dijalan. Itu pun udah dibantu minum obat buat nahannya. Luar biasa banget kesiksanya! Ditambah perut gue yang (kalo gak salah) 3 hari gak diisi nasi ataupun makanan berat lainnya, dan gue nekat langsung makan mie rebus sebelum pendakian, semua karena gue ngerasa badan gue udah enakan dihari pendakian itu (ini semua karena efek semangat berlebih) dan ternyata perut gue berontak, bayangin aja makan mie terus langsung jalan ngetrek sambil bawa carrier seberat gajah (ini lebay). Alhasil perjalanan hari pertama itu perut gue kraaaaam dan itu sakit banget tiap jalan kerasa ada yang nusuk diperut. Udah mual, kram, badan lemas dan panas, ditambah boker-boker. Lengkap banget penderitaan gue di Rinjani hari pertama. Hari selanjutnya lancar, gue bahagia banget disana dengan temen tim yang gila semua

20140304-022002.jpg

Selain di rinjani pendakian terberat gue itu ngedaki puncak Semeru. Ini pendakian kedua gue setelah papandayan. Hari pertama dan kedua sih masih nyantai banget perjalanannya. Pas pendakian ke puncaknya itu yang luar biasa. Setelah badan didera cukup lelah mulai dari perjalanan bandung-malang-ranupane-ranu kumbolo-kalimati (camp terakhir) akhirnya tiba juga waktu summit attack. Kondisi badan waktu itu sih fit banget. Biarpun suhunya luar biasa dinginnya. Belum pernah gue ngerasa sedingin di semeru. Total perjalanan hampir 7 jam. Jam 3 subuh tenaga gue udah abis beneran. Tapi puncak masih sangat jauh. Gue yang jarang olahraga ini dan fisik juga gak kuat-kuat banget hanya bisa ngandalin semangat dan sisa-sisa tenaga gue doang buat nyampe ke puncaknya. Nyampe dipuncak gue cuma bisa nangis terharu dan pelukan ama temen-temen. 5 bulan mimpiin semeru akhirnya kesampaian juga.

Pengalaman mistis juga pernah diputer-puter di gunung pangrango. Berangkat jam setengah 7 pagi nyampe puncak jam 9 malem. Luar biasa temen cewek gue sampe mau nangis frustasi gak sampe-sampe. Kita nyadar itu diputer karena inget banget trek yang kita lalui semalem itu berjarak hampir 3 jam dari puncak. Dan pas turun ternyata gak nyampe 10 menit kita udah di trek itu. Semuanya pada nyadar. Lumayan kita diputer-puter 3 jam di pangrango. Malem-malem lagi. Selain itu pengalaman mistis di jalur linggarjati Ciremai. Temen gue mencium aroma kotoran kuda dari pos kuburan kuda sampai batas hutan terakhir. Bayangin aja mana ada kuda di gunung, tapi bau kotorannya ada. Luar biasa! Selain itu juga gue ama teman-teman gue dengerin suara ajaib di pos kalimati. Suara lagu-lagu jawa dan itu kencang dan jelas banget suaranya. Entahlah dari mana sumbernya.

Dan sedikit cerita tentang pengalaman gue melawan acrophobia (ada di tulisan lain lengkapnya di blog gue) di Rinjani dan semeru. Menurut gue ini salah satu keberanian terbesar gue yang gue lakuin. Berkaca dari pengalaman naik bromo (sebelum naik rinjani dan semeru) waktu itu gue cuma sanggup 5 menit doang di puncak bromo. Gue gemeteran, gak kuat liat kebawah, angin kencang makin bikin gue kayak mau jatuh masuk ke kawah. Ketakutan gue dengan ketinggian memang udah parah. Dan puncaknya pas di jeep gue nangis ngeliat jurang kiri kanan di perjalanan pulang. Aneh memang ada yang suka naik gunung tapi acrophobia parah. Di semeru gue bersusah payah untuk turun mencoba memberanikan diri natap ke bawah. Perasaannya mau jatuh, temen-temen bisa lari, dan gue cuma bisa jalan sambil pegangan kiri kanan sebisanya. Di rinjani begitu juga. Teman-teman yang duluan hampir nunggu setengah jam didepan. Gak enak rasanya jadi memperlambat pergerakan tim. Tapi beginilah gue takut banget ketinggian. Dan yang paling paraha gue sampe harus berjalan merangkak-rangkak dibibir kawah Ciremai. Gue bener-bener gak bisa lagi jalan. Cuma bisa merangkak itupun ketakutan luar biasa.

Pengalaman paling asyik sih yang paling banyak, kalo dijabarin satu-satu susah. Nanti sekalian dibikin catper. Karena semua pendakian itu pasti asyik buat gue. Kalo diceritain satu-satu bakalan panjang, ntar jadi buku lagi (amin) hahahaha

20140304-023323.jpg